WASPADAI VIRUS EV 71
Apa itu virus EV 71?
ADA saja perkembangan penyakit baru akhir-akhir ini. Belum tuntas dengan penyebaran virus flu burung, kini muncul lagi virus yang menyerang usus serta kaki dan mulut atau yang disebut enterovirus 71 (EV71).
Enterovirus pertama kali ditemukan tahun 1969. Sejak saat itu, virus ini menjadi kasus sporadik di beberapa bagian dunia seperti Brazil, Eropa, Australia, Malaysia, dan Taiwan. Enterovirus kembali mewabah dan menyebabkan kematian pada tahun 1997 di Malaysia dan Taiwan pada tahun 1998.
Penyakit yang disebabkan virus EV-71 ini sering disebut ”Flu Singapura”. Istilah dalam dunia kedokteran, dikenal dengan nama hand, foot, and mouth disease (HFMD) atau penyakit kaki, tangan, dan mulut (KTM). Penyakit KTM adalah infeksi yang disebabkan virus RNA yang masuk famili picornaviridae, genus enterovirus. Genus yang lain adalah rhinovirus, cardiovirus, apthovirus. Di dalam genus enterovirus terdiri atas coxsackie A virus, coxsackie B virus, echovirus, dan enterovirus. Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71.
Penyakit ini tidak sama dengan penyakit kuku-mulut pada yang terdapat pada hewan ternak. Walaupun nama penyakit keduanya hampir serupa, tapi tidak berhubungan satu sama lain dan penyebabnya juga berbeda. Jadi penyakit ini tidak ditularkan dari binatang atau hewan ternak.
Tidak ada vektor, tetapi ada pembawa penyakit seperti lalat dan kecoak. Penyakit KTM mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain enterovirus lainnya. Penyakit tangan, kaki, dan mulut adalah penyakit umum dan penyebarannya dapat terjadi di antara kelompok anak. Misalnya, di sekolah atau di tempat penitipan anak. Penyakit tangan, kaki, dan mulut biasanya tersebar melalui hubungan sesama manusia.
Virus tersebut tersebar dari kotoran seorang yang terkena ke mulut orang lain lewat tangan tercemar, tapi bisa juga disebarkan lewat lendir mulut, atau sistem pernapasan, dan sentuhan langsung dengan cairan di dalam lepuhnya. Virus itu bisa berminggu-minggu berada di dalam kotoran.
Jumlah kasus penyakit tangan-kaki-mulut di China tahun 2008 hingga awal Mei meningkat menjadi 15.799, sebanyak 28 orang di antaranya yang seluruhnya anak-anak meninggal dunia.
Selain China dan Singapura, sejumlah orang di Vietnam dan Taiwan juga terinfeksi virus tersebut. Meski patut waspada, namun Indonesia belum akan mengeluarkan travel warning. Dan hingga saat ini, WHO belum mengkonfirmasikan virus tersebut sebagai kewaspadaan internasional. Menurut WHO, tidak ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengatasi virus EV71 ini. Pengobatan hanya difokuskan untuk menangani komplikasi yang ditimbulkan virus, yang bisa meliputi meningitis dan gagal jantung.
Manifestasi Klinis
Infeksi itu dapat menyebabkan demam, kulit melepuh di mulut dan kulit memerah di tangan dan kaki. Anak-anak sangat rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum cukup kuat. Masa inkubasi virus ini cukup lama, yaitu 3-7 hari
Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang, yaitu melalui droplet, pilek, air liur, tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu.
Kadang juga gejalanya disertai sedikit pilek atau gejala seperti flu. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus atau luka dimulut seperti sariawan di sekitar lidah, gusi, pipi sebelah dalam, terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash atau ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash atau ruam (makulopapel) ada di bokong.
Bayi atau anak usia di bawah 5 tahun yang timbul gejala berat harus dirujuk ke rumah sakit. Gejala yang dianggap berat adalah hiperpireksia (suhu lebih dari 39 derajat Celcius) atau demam tidak turun-turun, denyut jantung sangat cepat (tachicardia), sesak, malas makan minum, muntah atau diare dengan dehidrasi, badan sangat lemas, kesadaran turun, atau kejang-kejang.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit itu adalah infeksi selaput otak atau meningitis (aseptik meningitis, meningitis serosa, atau nonbakterial), infeksi otak atau encefalitis (bulbar), infeksi otot jantung atau miokarditis (coxsackie virus carditis) dan perikarditis, paralisis akut flasid (polio-like illness), infeksi paru atau pneumonia. Risiko ancaman jiwa lebih sering terjadi pada infeksi enterovirus 71, sedangkan virus coxsackie sangat jarang terjadi ancaman jiwa kecuali pada penderita dengan kondisi daya tahan tubuh yang menurun.
Pencegahan dan Antisipasi
Perilaku hidup sehat dan bersih adalah pencegahan dan perlindungan terbaik. Sebaiknya mencuci tangan dengan sabun dan air sesudah ke WC, sebelum makan, sesudah membuang ingus dan sesudah mengganti popok atau pakaian kotor. Pinjam-meminjam cangkir, sendok garpu, alat kebersihan pribadi misalnya handuk, lap muka, sikat gigi dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki adalah perilaku yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit ini. Mencuci pakaian kotor harus dengan baik dan higienis. Perilaku batuk dan bersin, sebaiknya harus menutup mulut dan hidung dengan baik. Bersihkanlah hidung serta mulut dengan tisu wajah, sesudah dipakai sekali buanglah, kemudian cucilah tangan. Anak yang terkena penyakit tangan, kaki dan mulut seyogyanya jangan dulu ke sekolah atau tempat penitipan anak sampai lepuhnya mengering. Penyakit ini sebaiknya dilaporkan kepada pengurus tempat penitipan anak atau kepala sekolah untuk dilakukan pencegahan dengan baik.
Seperti halnya infeksi virus pandemi lainnya seperti SARS atau flu burung, fenomena infeksi enterovirus 71 di bagian selatan Cina tersebut sangat berpotensi menyebar di Negara Indonesia bila tidak dilakukan antisipasi dengan baik. Meskipun diakui untuk melakukan skrening atau deteksi manusia yang masuk dari negera tersebut ke Indonesia sulit dilakukan. Paling tidak departemen kesehatan dan berbagai jajarannya termasuk tenaga medis di Indonesia nantinya harus cepat dalam mengantisipasinya. Tindakan yang mungkin segera dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan “traveller warning” kepada masyakat Indonesia dalam berkunjung ke daerah yang berpotensi terjadi penularan. Nantinya harus lebih dicermati apakah infeksi KTM yang terjadi di dalam masyarakat adalah Coxsackie A 16 atau Enterovirus 71. Untuk itu diperlakukan penemuan kasus dan pelaporan yang baik dan terkoordinasi bila terjadi. Jangan sampai infeksi enterovitrus 71 sudah banyak mengancam nyawa anak Indonesia, tetapi tindakan antisipasi baru dilakukan.
Pengobatan
Penanganan penyakit ini tidak ada yang khusus, karena merupakan penyakit “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam 7-10 hari. Penderita perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Obat golongan paracetamol atau penurun panas digunakan dalam penganan demam yang terjadi. Dalam keadaan tertentu dapat diberikan Immunoglobulin IV (IGIV) pada pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun seperti pada bayi. Pemberian cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan demam. Hindari dari golongan aspirin. (Aspirin tidak boleh diberikan pada demam akibat infeksi virus pada anak di bawah 12 tahun).
Makanan sebaiknya berkonsistensi lunak, tidak asin, pedas, maupun asam. Hindari juga makanan yang harus dikunyah lama. Perbanyak asupan cairan, untuk mencegah dehidrasi dan kumur dengan air hangat setiap kali selesai makan.
Disusun oleh : Rizki Amelia
Diperoleh dari beberapa sumber
